Daunku jatuh di tanah kering,
Sendiri nyaris mati,
Sunyi bersembunyi ditemani melodi sepi,
Merintih, menatapi yang pergi bersama senja,
Perlahan namun pasti
Kalau saja tak berjanji bertemu pagi, tak akan ku bertahan seperti ini...
Lena Munzar
Meja kerja, Bta
Rabu, 29.02.2012
07:08 wib.
Rabu, 14 Maret 2012
Menanti Pagi
Aku jatuh cinta pada hidup
Aku jatuh cinta pada hidup
Dengan segala bentuk keindahan dan kenikmatan ragam rasa
Semua dalam bingkisan yang di ukir pada kanvas oleh Penciptaku dalam keselarasan yang menyatu padu jadi satu
Warna dan hidup
Aku jatuh cinta pada hidup
Awan, alam mengajarkan aku mengeja dihadapanku
Menadah rintik hujan, titik embun...
Lena Munzar (dalam buku antologi 'Simfony Munajat Pada-Mu'. FLP Sumatera Selatan, 2010)
Jumat, 19 Agustus 2011
Cinta...

Cinta...
Sekalipun cinta telah kuuraikan dan kujelaskan panjang lebar.
Namun jika cinta kudatangi aku jadi malu pada keteranganku sendiri.
Meskipun lidahku telah mampu menguraikan dengan terang.
Namun tanpa lidah, Cinta ternyata lebih terang
Sementara pena begitu tergesa-gesa menuliskannya
Kata-kata pecah berkeping-keping begitu sampai kepada cinta
Dalam menguraikan cinta, akal terbaring tak berdaya
Bagaikan keledai terbaring dalam lumpur
Cinta sendirilah yang menerangkan cinta dan percintaan ! (KCB:69)
Jangan pernah menguji Allah...

Jangan pernah menguji Allah...
Tapi, dalam hati aku sedih, seakan ada kehinaan untukku.. Tidak ada satu pun yg berinisiatif meminjamkan atau berbagi sajadah denganku. Dalam hati aku bertanya-tanya. " Ya, Allah.. Ada salahkah aku? Sehingga dalam keadaan seperti ini tidak ada satu orang pun bersimpati padaku. Padahal aku yg membersihkan dan membentangkan sajadah agar bisa mereka tempati dan beribadah dengan nyaman. Kenapa seperti tidak adil untukku. Lihatlah mereka yg ada di depan, kiri dan kanan ku. Bukan mereka sedang tidak melihat.. Sungguh hatiku sangat sedih saat itu.. Bukankah pepatah mengatakan suatu saat kita akan menuai apa yg kita tanam?. Entahlah, aku jadi berpikir apa yg aku tanam selama ini salah".
Nilai part 1: Percayakan pada diri kita bahwa kita bisa

Nilai part 1: Percayakan pada diri kita bahwa kita bisa
Hari penuh debaran kali ini masih sama yang aku rasakan kurang lebih saat semester yang lalu. Semester satu. Saat-saat menanti nilai semesteran keluar. Pada saat itu tidak ada harapan dan doa yang lain kecuali mendapat nilai baik dan berhasil mendapat 24 SKS. Mau berapa pun nilai tak jadi soal. Akankah dapat nilai A, B, C, asal jangan saja nilai D.
Tapi saya mengingat-ingat selama proses perkuliahan untuk keaktifan, diskusi, tugas, quis, mid, semesteran memang saya jalani sebaik mungkin. Karna itu kewajiban. untuk hasilnya pasrah..
Apa lagi jika di ingat saya sempat melayangkan "protes damai" ke dosen saya tentang apa tanggapan dari hasil nilai mid saya yang sempat dengan nilai imut bulan anjlok lho…(untuk mata kuliah satu ini) tapi murni di bandingkan nilai bagus tapi curang. Saya hanya ingin tahu pandangan dosen saya. Karena ini menyangkut masa depan generasi bangsa. (Cie.. Hehe..hm.) Dan saya mendapat tanggapan. "kamu hanya kurang beruntung saja, tapi masih ada kesempatan yang lain". Gubrakk .. OK. Sistem belajar selama ini harus di perketan dan diperjuangkan lebih keras lagi.
Dan sempat agak ciut saat melihat ada beberapa teman saya yang punya keterampilan yang sangat baik di bidang copy paste jawaban dari buku catatan ke lembar jawaban dengan waktu yang relatif seingkat-singkatnya.
Saya meyakinkan diri bahwa saya mampu tanpa keterampikan tersebut. Saya harus berpikir BISA. (Harus berpikir BISA, coba renungkan teori ini: gimana mau bisa, jika berpikir untuk bisa saja tidak bisa, hayo???) Lagi pula malu sama umur dan kerudung. Pikiran pesimis sempat mampir untuk nilai dari mata kuliah yang pernah saya melakukan aksi “Protes damai” Aduh.. gimana kalau dosen itu marah? Sensitive? Nilai saya D? oh, tidak… janagn D males mau ikut SP apalagi ngulang semester depan dengan adik tingkat pula. Duh…
Dan... Akhirnya nilai keluar satu persatu. Alhamdulillah IP-ku dapat 3,81. Saya berhasil mengantongi 6 nilai A dan 2 nilai B untuk 8 mata kuliah. Subhanallah.. Padahal awalnya saya tidak begitu bermimpi walau di awal perkuliahan di azzamkan semoga saja di waktu wisuda mendapatkan nilai cum laude.
Dan nilai dengan dosen yang mata kuliah bermasalah itu dapat A. Beberapa teman sempat memberikan ucapan selamat sambil berkomentar "Wajar sih, orang ayuk tuh pinter". Hah.. Tidakkah kalian tahu semua itu adalah perjuangan. Dan satu kata kunci.. Tidak dengan NGEPEK !. Dan bagaimana dengan nilai semester dua kali ini?. Bersambung... ;-)
Kamis, 11 November 2010
Cinta di Yogya

Cinta di Yogya
Hatiku gerimis... menangis
Malu dan sendu jadi satu
saat tangan dan tubuh tak berada bersamamu
Aku yang belum melunasi janji
Janji akan kembali lagi
untuk mengambil kembali satu cinta yang ku titipkan di sana
dengan harapan untuk kembali merasakan nafas dalam rindu yang tertahan
Rindu bersamamu
Sungguh aku ingin kembali kepadamu
Mengambil kembali hatiku
Bukan untuk siapa-siapa
Tapi untuk aku...
hatiku...
lena munzar 06 november 2010
cinta untuk yogya...
Senin, 06 September 2010
puisi sunyi

Beberapa waktu lalu. Waktu tepat dini hari aku di kejutkan dering hp-ku. Nama seorang sahabat tercantum di layar hp. Ada apa ya? Kok telpon malam-malam gini?
Ku sambut dengan kantuk yang terjaga dan intonasi suara seadannya…
Dari seberang suara tangis mendera. Tanpa ucapan kata-kata… berulang kali ku Tanya ada apa? TapI hanya suara tangis sesegukan yang menjawab. Sampai akhirnya aku pasrah dan diam sambil menunggu ia buka suara sendiri. Ku tunggu satu, dua, tiga menit berlalu… ( sambil mulai resah, kasihan pulsanya…J )
“ Len… Suamiku selingkuh…”
Aku terbelalak. Kaget plus bingung.
Sambil sesegukan ia cerita panjang lebar. Terasa sakit hati dan perihnya.
Ia terus bercerita siiringi tangisnya. Tanpa peduli akan diriku yang tidak menyumbang suara sedikitpun.
Ku dengarkan dengan seksama sambil berfikir kok dia mau cerita sama aku? Padahal siapalah aku ini.apa yang bias aku perbuat untuknya. Mau kasih nasihat? Nasihat apa?, huh… boro-boro nasihat dan solusi ngerti juga nggak… ( belum ada pengalaman rumah tangga. )
Aku ikut sedih.
Swlain menjadi pendengar yang baik. Setelah tangis dan ia selesai mengeluarkan uneg-unegnya ku sarankan ia sholat dulu. Mengadulah pada Allah. Semoga Allah member petunjuk atas masalahnya.
Setelah itu mataku tak mau lagi terpejam.
Banyak hal berkecamuk di otakku.
Dan lahirlah sebuah puisi. untuk sahabatku di seberang sana.
Tahukah sayang
Kau dan aku adalah cerminan masing-masing kita
Aku tahu itu…
Saat cinta kita sedang tidak bersamamu saat ini
Aku tahu kecenderunganmu
Semua terserah padamu
Begitu juga aku…
Aku yang tidak ingin sepertimu
Aku akan tetap seperti ini,
Tetap dengan hatiku
Di hatiku ada kamu…
Di hatiku ada sang Pemilik hatiku
Di hatiku ada Dia dan kamu…
By. Lena Munzar
Don’t be sad. J