Senin, 21 Januari 2013

puisi Lena Munzar


Cerpen: Nasi Bungkus Untuk Munah


                                                        Nasi Bungkus Untuk Munah 
                                                               Oleh Lena Munzar 


                                                              



Getir hati Inah saat memandangi wajah tirus yang semakain terlihat semakin kurus dan tampak pucat milik Munah adiknya.

Munah yang sedang tertidur di pangkuannya gelisah dan sesekali terdengar seperti merintih menahan rasa lapar. Ina semakin merasa bersalah. Merasa tak banyak yang dapat ia lakukan untuk sang adik yang terpaksa ikut merasakan pahitnya kehidupan.

“Lapah, lapah…Yuk. ” Rintih Munah.

Di bawah keremangan langit kota Baturaja. Di emperan toko yang menjulang. Menembok beton kawasan sepanjang jalan Pahlawan Kemarung. Perkembangan yang luar biasa cepatnya. Hanya dalam beberapa tahun saja Baturaja seperti kota yang tersulap. Pusat perbelanjaan yang mampu menjaga gengsi dan harga diri manusia sudah hadir di kota kecil ini. Sudah mulai terjadi perapian pedagang-pedagang kaki lima yang berjualan ngemper dengan lapak-lapak buluk mereka, sekarang tergusur mempercantik kota dengan dibuatnya taman kota, gedung olahraga, masjid megah yang cantik ada dua gedung-gedung pemerintahan bergaya khas Palembang menawan hati yang memandang.

Tapi, semua itu tidak untuk Inah dan Munah. Seperti malam ini, udara dingin menggigit perut mereka yang kosong. Menembus tulang-tulang rusuk siapa saja yang bermukim di sana.

Tak begitu jauh dari tempat mereka, banyak juga orang yang bernasib sama seperti mereka. Penghuni emperan.

“Oh, alangkah enak seandainya kita anak orang kaya. Punya rumah, pasti tidak kedinginan begini. Pastinya, Bisa beristirahat di kamar yang nyaman dan hangat. Andai kita punya duit, pasti sudah Ayuk belikan nasi bungkus buat kamu, Dek! Nasi campur kegemaranmu dengan lauk tempe goreng, sambal calok , dan secuil sayur. Satu bungkus nasi yang biasa kita nikmati berdua,” batinnya.

Wajahnya suram menatap ke arah jalan raya yang sudah mulai sepi dari lalu lalang kendaraan. Yang tampak hanya mamang-mamang becak yang mangkal ditemani dengan kepulan asap rokok mereka.

Ia bersandar pada dinding yang dingin. Hanya terdiam menatap sayu ke arah adiknya yang sedang tertidur sebelum pandangannya kembali menatap kearah jalan. Dalam pekat malam hanya ditemani rintik-rintik rinai hujan.

Ia pun merasakan rintik-rintik di hatinya yang lagi-lagi merenungi nasibnya.

“Ah, apa gunannya kalau hanya merintih saja. Apa akan membawa perubahan,” batinnya bertanya.

Sudah dua hari ini sebenarnya perut mereka berdua belum sedikitpun tersentuh nasi.

***

Seharian mereka sudah bolak-balik menyusuri Pasar Pucuk berharap akan dapat sesuatu yang dapat mengganjal perut mereka. Dengan sempoyongan mereka terus berjalan. Tangan Inah selalu menggengam erat tangan Munah, berjalan beriringan.

Pemandangan yang mengagumkan dan menyedihkan. Sebuah bentuk kasih sayang dua insan anak manusia yang benasib malang yang sedang berjuang keras mempertahankan hidup. Berjuang untuk hidup. Hidup memang sulit. Tapi tidak untuk disesali.

Mereka melewati beberapa rumah makan berharap ada yang berbaik hati menawari sisa-sisa makanan yang terbuang mubazir. Makanan sisa orang-orang berduit.
Tapi itu hanya harapan yang sia. Jangankan untuk sebuah tawaran, malah mereka mendapatkan perlakuan yang kasar dari pemilik rumah makan. Mereka dianggap menjijikan. Merusak pemandangan. Seolah-olah kehadiran mereka akan menimbulkan perubahan cita rasa dan warna pada masakan mereka. Sedangkan orang-orang yang ada di dalam dengan perut buncit mereka dengan makanan yang berlimpah itu sama sekali tidak memperdulikan mereka. Mungkin diantara mereka berpikiran I don’t care!

***

Dengan mata berkabut Inah menarik tangan Munah yang terjatuh oleh dorongan kasar pemilik rumah makan yang mengusir mereka. Dibantunya adiknya Munah untuk berdiri. Dibimbingnya untuk cepat menyingkir dari tempat itu.

Sepanjang perjalanan di emperan, mereka sama sekali tidak menemuan apa pun. Mereka berdua sama-sama terdiam tak mampu mengucapkan kata-kata lagi. Hati mereka sedih. Mengapa mereka harus meresakan penderitaan ini. Sedangkan di dunia ini banyak orang yang mungkin sedang merasakan bahagia.

Mereka tidak tahu lagi harus kemana.
Atau pulang saja?
Pulang?

Nak balek kemane agi? Sedang mereka sudah tidak punya tempat tinggal lagi. Dan mungkin rumah petak yang mereka tinggali bersama keluarga utuh sebelum mereka tercerai berai. Walau dulu tinggal di kontrakan kecil, mereka sempat bahagia, layaknya seperti keluarga lain. Hangat. Tapi, sekarang tidak ada lagi rumah yang dijadikan untuk tempat tinggal. Dapur emak sudah lama sekali tidak mengepul asapnya. Atau tudung nasi yang tidak berpenghuni.

Dulu, mereka sempat mencoba untuk pulang. mendapatkan perlakuan kasar. Diusir dari yang punya kontrakan dan mereka medapatkan cacian, Sumpah serapah, bahkan ancaman dari para rentenir yang menagih hutangnya pada emak. Hutang yang ditinggalkan umak . Hutang yang tak pernah dan tak sanggup emak untuk membayarnya. Dan mereka berdua tak berani lagi berharap pulang ke rumah. Rumah mereka sekarang adalah gerobak kumuh punya Aba dulu. Rumah yang bias di bawa kemana-mana. Pada saat sedang berjalan-jalan santai, dan melihat gadis kecil yang kesusahan mendorong gerobak yang sepantasnya disebut gerobak sampah. Gerobak itu ukuranya lebih besar dari ukuran tubuh yang mendorongnya, dan di dalam gerobak ada anak kecil. Jika siang hari gerobak itu akan terlihat tertutup separuh dengan kain yang sudah kumal. Berharap penghuni di dalamnya tidak terlalu kepanasan oleh sengatan matahari. Itulah mereka, Inah dan Munah dengan harta mereka satu-satunya gerobak peninggalan Aba.

Aba? Aba belum pulang.

Aba pergi merantau mencari pekerjaan. Mereka selalu berharap aba pulang dengan membawa banyak uang. Kalau di Baturaja, kota kecil ini tidak akan bisa merubah hidup mereka. Dan pasti hanya akan seperti itu-itu saja.

Sebelumnya, berbagai macam pekerjaan, serabutan telah dilakoni Aba. Mulai dari calo terminal. Tentu saja Aba tak mendapatkan banyak uang. Aba tidak mendapatkan banyak uang karena calo-calo di terminal sudah banyak dan sudah di beking oleh sopir-sopir yang rata-rata sudah punya langganan mereka sendiri. Mereka yang sudah lama jadi penghuni terminal Pasar Baru.

Pernah juga Aba jadi kuli angkut barang Toko Ahong. Tapi, upahnya kecil sekali. Terkadang tak cukup untuk mencukupi kebutuhan biaya hidup mereka sehari-hari. Sedangkan pekerjaan yang harus dikerjakan Aba banyak mengeluarkan tenaga. Mengangkat kardus-kardus yang berat. Bukan hanya kardus-kardus berat, derigen minyak sayur, berkarung-karung beras, gula, dan gandum.
Dan pernah Aba melakukan kesalahan, tidak sengaja Abah pernah menjatuhkan derigen minyak sayur, tumpah meluber ke mana-mana. Upah Abah dipotong seharga jual minyak sayur. Habislah semua upah Abah. Bukan hanya itu Abah lalu dipecat.

Pernah juga Abah berniat menjual rokok asongan. Tapi, itu butuh modal. Walaupun bisa dicoba dengan modal yang kecil. Tapi, tetap saja tidak bisa. Tidak cukup.

Tidak hanya itu. Utang Umak di warung sudah sangat menumpuk. Umak sampai malu kalau harus terus-terusan ngutang.

Akhirnya dengan modal nekat, Aba pergi ke kota cari kerja. Dan Umak hanya bisa merelakan, pasrah dan berdoa untuk Aba. Dan sudah dua tahun ini Aba tak kunjung pulang. Sedangkan umak? Umak sekarang sudah tenang di sana. Umak sudah tidak lagi merasakan getirnya kehidupan.

***

Kriukk...kriukkk..... perut Inah berbunyi. Saingan dengan bunyi perut Munah. Menerbangkan ingatannya tentang Umak dan Aba. Sepanjang hari perut mereka hanya berisi air putih saja. Inah merasakan hal yang sama yang dirasakan Munah. Tapi, ia harus tegar. Ia tidak boleh terlihat lemah di mata Munah. Tidak boleh mengeluh di depan Munah.

Anak manusia yang baru berusia tujuh tahun itu harus berlagak dewasa dari umurnya yang sebenarnya.

“Yuk, lapar, Munah lapar!“ rintih Munah. Mungkin ia sudah tak tahan lagi menanggung rasa lapar.

“Munah mau makan, Yuk! ” pintanya lagi.

“Iya, Dek!” jawabnya lemah, nyaris tak terdengar. Inah tahu itu. Inah tahu kalau Munah sedang kelaparan. Ia pun sama. Mereka sama-sama merasakan hal yang sama. Lapar.
“Yuk, makan,” pintanya dengan wajah memelas. Menatap lurus ke arah wajah yang teduh mengusap keningnya dengan kasih.
“ Minom kian ye, Dek. Biar tidak terlalu terasa lapar.” Bujuk Ina.
Munah menggelengkan kepala. “Munah lapar, Munah mau makan!” tolaknya.

“Sabar ya, Dek. Orang yang sabar itu disayang Tuhan. Atau bagaimana kalau kita berdoa. Kita berdoa sama Allah. Siapa tahu akan dikabulkan. Ya, dek?”

“Kalau kita berdoa akan di kabulkan, ya?” wajah mungilnya berpikir. Menyiratkan kecerdasannya. Ina mengangguk.
“Kalau begitu ayo kita berdoa!” ajak Munah. Inah menuruti ajakan Munah. Ia tak ingin mengecewakan Munah.

Dalam hatinya ia terus berpikir. Bagaimana ini, apa yang harus ia lakukan? Sejujurnya ia sedikit ragu. Apa mungkin semua itu akan terjadi. Tuhan akan mengabulkan doanya, doa mereka?

Inah teringat kata-kata Ustadz Fahim, guru ngaji mereka dulu. Bahwa Allah itu maha Kuasa, maha Besar. Tak ada yang mustahil bagi-Nya. Teringat ucapan Ustadz Fahim tadi kembali timbul secercah harapan baru bagi Ina.
“Apakah Tuhan saying sama kita?”
“Kenapa bertanya begitu?”

“Iya, kenapa ada yang harus kelaparan seperti kita. Tapi, orang-orang lain ada yang kekenyangan.”
“ Tidak apa-apa, Dek ! Allah masih sayang sama kita. “

“ Kalau Allah sayang, kenapa sepertinya tidak adil? Apa bisa kita yang orang miskin bisa masuk surga?” mungkin di pikiran Munah surga itu hanya untuk orang kaya, seperti orang kaya saja yang layak menikmati kesenangan dan kebahagiaan. Padahal surga adalah ruang yang tidak ada penderitaan di dalamnya.
“ ya, bisa. Kita yang sabar, ya. “
“Ayuk di surga ada apa saja?”
“ da apa, ya? Kata ustadz, apa saja ada di sana.“
“ enar? Ada makanan?”
“ Ng… Ada. Memangnya kalau di surga, Munah mau makanan apa, Dek?”

“Kalau nasi bungkus ada tidak? ” Inah tersentak. Hatinya langsung gerimis. Alangkah sederhananya pinta seorang Munah, menunjukkan kalau saat ini ia sedang kelaparan sekali dan hanya punya satu keinginan yaitu, MAKAN!

Dipandanginya anak kecil berumur empat tahun itu. Munah terlihat sedang menerawang. Apakah ia sedang membayangkan nasi bungkus di surga. Nasi bungkus di surga? Ada-ada saja si Munah.

Ya, Allah berilah kami rezeki-Mu.

***

Malam semakin larut.

Kriuuk…kriuukk......perut Munah kembali terdengar. Mereka hanya bisa tersenyum. Senyuman yang penuh kegetiran. Tak lama kembali terdengar lagi. “He, bunyi lagi!” ucapnya malu-malu. Tapi sebenarnya yang lebih malu lagi adalah Inah. Sesungguhnya ia merasa sangat bersalah sekali pada Munah.

“Yuk, Munah ngantuk. Munah tidur saja, ya” Inah mengangguk. Dipeluknya Munah erat-erat.
“ Ya, Allah, kuatkanlah Munah. “

Suasana kembali sunyi. Tak terdengar lagi suara Munah menceracau. Tak terdengar lagi perut Munah yang kriuk-kriuk.
Allah maha pengasih.
Sebuah mobil Nissan Extrail hitam metalik berhenti. Menurunkan kardus besar.

Itulah aksi para calon dewan yang sedang mencari masa untuk mendukungnya. Maklum lagi masa kampanye. Bukan hanya itu tampak ramai pula orang-orang membawa kamera yang sibuk jepret sana-jepret sini. Dan tunggu sana besok beritanya di koran akan heboh.

Salah satu calon yang bakal menduduki kursi dewan diBaturaja sedang memperhatikan nasib orang-orang jalanan. Begitulah sosok yang sangat dibutuhkan masyarakat kita. Sosok yang peduli dengan orang-orang kecil yang sering luput dari perhatian.

Itu kalau lagi masa kampanye. Coba kalau tidak masa kampanye. Boro-boro kunjungan “memperhatikan orang-orang kecil”. Peduli saja tidak. Apa lagi kalau bukan baik kalau lagi ada maunya .

“Apa itu?” banyak orang langsung mendekati kardus besar itu. Inah pun beranjak dari tempatnya. Rupanya bukan hanya dia yang memperhatikan orang baru datang tadi. Rupanya seluruh penghuni emperan ini pun memperhatikan hal yang sama.

“Nasi, nasi…!” teriak anak kecil seumuran Munah berteriak girang. “ hah, nasi? pikir Ina. Tanpa pikir panjang ia mempercepat lagi langkah kakinya ikut memburu.
Mamamng-mamang becak pun ikut memburu dengan dengan perasaan ingin tahu mereka. Benarkah nasi Bungkus?.

Anak kecil itu girang sambil membuka bungkusan nasi bungkus.“ Rendang, nasi rendang! “ serunya.
“Iya, benar.” Seorang pengemispun langsung melahap. Tanpa memikirkan apa-apa lagi. Yang ada dipikirannya orang yang memberikan nasi bungkus ini adalah orang baik. Ia tak perduli kalau mereka sedang dimanfaatkan untuk politik.

Inah pun tak terlalu memperdulikan orang-orang disekitarnya yang sudah mulai melahap nasi bungkus mereka masing-masing.
Inah mengambil dua nasi bungkus. Yang satunya untuk Munah. Dengan penuh semangat dan rasa bahagia Inah mendekati Munah yang masih tertidur.

“ Dek, bangun Dek. Kita dapat nasi bungkus. Bukan hanya nasi sayur. Tapi nasi rendang. “ wajah Ina berbinar bahagia

Namun tak ada reaksi dari Munah. Inah mencoba membangunkan Munah. Di goyangnya tubuh Munah pelan. Tapi, Munah tetap diam.
Ditatapnya wajah Munah dingin.
Ina menggoyang dengan sedikit keras. Namun Munah masih tidak bereaksi. Mata Munah mulai memanas dan berkabut.
“Munah, Munah…”
“Munah… bangun Dek. Ini ayuk kundangkan nasi bungkus yang ngan pingenkan! ”

“Munah…” ucapanya lirih.

“Munah, ini nasi bungkusnya, Munah….” Hati Inah teriris-iris. Kedukaan berkabut di matanya. Menggenang menciptakan telaga.
Di dekapnya tubuh Munah yang tergolek lemah. Didekapnya tubuh mungil itu.

Dingin.

Ada titik-titik bening yang jatuh. 


Luruh.
 
Munah…!




Keterangan Bahasa Daerah:
1. Lapah = Lapar
2. Sambal Calok = Sambal Terasi
3. Nak balek kemane agi? = Mau pulang kemana lagi?
4. Aba = Bapak/Ayah
5. Umak = Ibu
6. Minom kian ye, Dek = Minum Saja ya, Dik
7. Ini ayuk kundangkan nasi bungkus yang ngan pingenkan!
= Ini kakak (perempuan) bawakan nasi bungkus yang kau inginkan.
 


Cerpen: MENDADAK NASYID

MENDADAK NASYID
Oleh: Lena Munzar 

“Ayo donk, Fit ! Buruan...” pinta Ida dengan sedikit geregetan dan tak sabaran menungguiku berdandan.
“Iya...ya, bentar ! Sabar dikit, napa ?!” aku dengan gerak ogah-ogahan sambil  membenahi letak kerudung lebarku yang masih mencong sana-sini.
“Takut telat, nih ! Kan sayang kalau ketinggalan “ucapnya cemas mondar-mandir kaya setrikaan.
“Emang  acara apaan, sih ? Heboh banget ?” mau nggak mau penasaran di buatnya sedikit risih juga ditungguin, pake' nggak sabaran lagi.
“Ada aja! Pokoknya dijamin happy ending, deh!”
“Iya, tapi apaan ?”

“Udah, ikut aja pasti bakalan nggak nyesel ! Buruan tuh Wiwik udah siap dari tadi, aku tunggu di teras, ya !” Ia berjalan meninggalkanku. Penasaranku tambah menjadi dengan sikap semangatnya.
Dari kamarku terdengar samar-samar suara Ida bercerita, kalau nggak salah dengar sih dia berbicara dengan Wiwik, temen kita sekost-an juga kebetulan kita berlima ngekost bareng.
Itu lebih memudahkan kita, disamping biaya kost lebih ringan kita udah cocok, kita semua kompakan karena kita-kita emang udah akrab dari SMA, kebetulan kuliah di kota tujuan yang sama, kampus yang sama cuma beda Fakultas aja.
Hh...aku mendesah panjang.
“Udah ?”tanya Dwi, tampaknya ia juga nggak bersemangat, aku tebak ia juga dipaksa Ida dan nggak enakan mau nolak. Sebenarnya aku enggan ikutan tapi Ida mohon-mohon banget minta ditemani, promosinya gencar banget dengan aksi memelasnya udah seminggu ini.
Please, ya Fit ! Tolong...! yang lain pada ikutan kok, jangan khawatir deh, asyik kok acaranya. Masa kamu mau tinggal sendirian, kita jarang banget akhir-akhir ini pergi bareng, Dwi ama Wiwik udah setuju kok, please ya?!”
“Aduh...gimana, ya?” aku bimbang dengan ajakan Ida. Lebih tepatnya malas.
“Sebenarnya aku banyak tugas, da! tugas akhir yang harus aku selesaikan itu sudah numpuk nunggu di kerjakan, apalagi tugas dari bu Siska kalau telat abislah aku, belum nyiapin  materi buat mentor di SMU, waktu seminggu tu full banget jam kuliah. Lagian aku nggak ikut, acaranya nggak bakal batal kan ?” aku harap dia maklum, tapi yang namanya Ida nggak gampang diajak kompromi. Walaupun aku sudah menjelaskan dia tetap aja ngotot. Disamping itu yang membuat aku nggak bersemangat, tujuannya nggak jelas, format acaranya apa? Tempatnya dimana? tau' deh !
“Aduh Fit, kok nggak kompakan banget, nggak ada loe nggak rame “kayak nada suaranya yang mirip iklan rokok yang lagi popular.
Yup. ! Sudak ketebak alasannya, rayuan dan wajah memelasnya itu membuat aku iba. Akhirnya luluhlah aku, nggak tega ngeliat dia mohon-mohon terus dan perjuangan pantang mundurnya membuat aku pasrah.
***
Akhirnya setelah dua kali naik angkot sampailah kami di lautan manusia, padahal masih satu persimpangan jalan lagi ke tempat yang kami tuju, tapi sudah sesak berjubelan. Panas, pengap itulah yang kurasakan. Aku nggak pernah membayangkan sebelumnya ternyata acara yang dimaksud Ida itu ternyata acara konser grup band yang bergaya funki ! Oh, my god !
Gimana ceritanya, nih ? sepanjang jalan menuju arah tempat konser ada banyak manusia berdandan ala sang idola yang mereka puja. Susah payah kami harus ikutan menembus masa aku dan Dwi saling pandang, bingung dan bisu…
Masa' sih? Ke tempat beginian ? Di otakku hadir beribu-ribu pertanyaan yang nggak mampu dijawab.
Idaaa...!
***
Aku benar-benar seperti hilang akal, nggak habis pikir, nggak nyangka bakal begini. Yang aku pertanyakan apa dia nggak mikir dengan acara beginian berani bawa aku dan Dwi serta tanpa memikirkan citra kami yang aku rasa sebentar lagi menguap, ya Rabb. Timbul penyesalan dalam hati, kenapa aku nggak mikir kalau acara yang beginian yang Ida maksud, padahal aku sudah paham betul kalau si Ida emang demen banget yang beginian. Dan ini sangat-sangat keterlaluan.
Yang lalu lalang diantara ribuan karakter manusia yang melintas banyak memperhatikan kami dengan tatapan aneh ? Ya, aneh masa' cewek berjilbab ikut acara beginian, tapi bukan saat yang tepat buat ngubris tatapan-tatapan aneh itu, yang aku pikirkan gimana kelanjutan nasib kami selanjutnya.
Aku bingung antara perasaan cemas, takut dan was-was, campur malu lagi. Apalagi pas kepergok sama Arif ketua LDK di Kampusku. Ikhwan yang istiqhomah dan sohibnya, Bayu kakak tingkatku para aktivis di kampus yang terkenal disiplin dan berprestasi, dakwah keduanya yang cap dua jempol.
Dengan heran mereka melihat kami, terutama untukku dan Dwi pertanyaan-pertanyaannya yang terlontar di telan riuh dan akhirnya samar terbawa arus, karena arus yang kami tuju berlawanan.
Lemas aku...
Sebuah konser grup band yang digelar di sebuah stadion lumayan luas yang mampu menampung tiga ribu jiwa. Suara yang terdengar sangat hingar-bingar keluar dari puluhan sound yang bersusun rapi di kanan-kiri stadion, masing-masing membentuk sound raksasa. Belum lagi lampu-lampu yang memakan beribu-ribu watt. Benar-benar berlebihan. Mana tagihan listrik baru saja naik. Jangan-jangan nanti membludak  naik dan tagihan rekening nanti di bebani ke masyarakat  lagi. Wah gawat !
Vocal grup band bergerak kesana-kemari dengan mic di tangan kanannya, tangan kirinya melambai-lambai. Sementara ribuan pengunjungnya seperti terhipnotis menari, jingkrak-jingkrakan, melonjak-lonjak mengikuti gerakan pujaan mereka. Ikutan nyanyi lagi!
Trus sang vocal melepas kaos yang dipakainya. Yang basah kuyup dengan aroma bau keringatnya itu, lalu dilemparkan kearah penonton yang dengan sigap berebutan seperti ayam dapat beras jatah yang bertaburan di tanah atau persis ikan yang dapat makan. Persis banget !
Astaghfirullah....
Banyak yang terinjak-injak, tersodok dan terjatuh memperjuangkan memperebutkan kaos itu mana bau lagi, week!!!
Kaos bersimbah peluh itu semakain kucel, dekil pas banget kalau di bilang kayak kain lap di dapur yang sebulan nggak di cuci.
Alamaak...! aku di kasih gratis aja ogah, deh...mendingan beli baru aja.
Belum lagi pemandangan yang lain, tampak banget cewek-cewek ABG dengan bajunya ala superman yang super ketat itu, nyaris kelihatan pusat dan lekuk-lekuk tubuhnya. Naudzubillah min dzalik, deh !
Di depan mataku tampak jelas sekitar empat pria mendesak dua orang ABG cewek dari dua arah. Aku syok seketika, detak jantungku tak beraturan, tak mampu berbicara. Pria sebelah kiri mencari sesuatu, tangannya mengarah ke rok kemudian kantong saku baju, di dapatilah hp dari salah satu ABG itu, walau hp telah diraih dan berpindah tangan pria itu, tak lama tangannya kembali lagi.
Astaghfirullah....aku takut.
“Hei....Da, pulang yuk! “pintaku.
What happen, honey ? Any problems ?”
“Pulang ! Aku bosan, aku nggak betah disini “dengan nada kuperjelas.
“Iya, nih ! Aku pusing “tampaknya Dwi setuju dengan usulku.
“Tapi kan lagi tanggung, ini baru lagu kedua !”Ida masih tampak menikmati suasana acara yang hingar-bingar membuat keriting telinga, kribo rambut.
“Aku udah nggak tahan nih, mau pulang nggak?” ucapku yang mulai emosi.
“Aduh…! Bentar lagi, ya? “pintanya.
“Nggak ! Pokoknya pulang sekarang !!”tegasku. Ia berpikir bimbang.
“Kalau kamu nggak mau ikutan pulang, aku pulang duluan.....”ancamku.
            Lama ida mikir. Ia terlihat bimbang dan aku berharap saat itu ia setuju dengan keinginanku untuk pulang. Namun di luar dugaan.
 “Ya udah, deh. Kalau mau pulang, pulang aja duluan. Aku nggak pa-pa kok. Hati-hati ya… !”ujarnya cuek. Mungkin ia agak terusik dengan ulahku. Aku nggak kalah kaget dengan jawabannya.
 Ugh....
Ingin rasanya aku marah-marah.  ah.,tapi percuma ... apa gunanya ! Yang terpenting sekarang meninggalkan tempat ini secepatnya. Dwi mengikutiku. Aku tau dia sebenarnya sudah dari tadi mau pulang. Terlihat dari sikapnya yang ngerasa nggak nyaman. Hanya Wiwik yang masih nemenin Ida, jaga-jaga kemungkinan sesuatu yang tak diharapkan terjadi.
Aku tak memperdulikan lagi sikapku, emosiku tak terkontrol lagi. Dwi tampak susah payah mengimbangi langkah panjangku. Sepanjang perjalanan kami sama-sama terdiam. Kami sibuk dengan pikiran masing-masing. Kok bisa jadi begini?. Dadaku sesak, butiran bening yang hangat akhirnya menetes juga dengan susah payah aku menahannya. Membobol bendungan kedongkolanku. Aku jadi kesaalll banget.
Dwi mencoba menghiburku. Disamping emosi sebenarnya aku merasakan takut dengan situasi seperti ini. Aku harus bertekad. Ku tanamkan niat dan di pikiranku hanya satu, Pulang.
Degup jantungku berpacu cepat bercampur rasa takut dan kesal. Apalagi ada perkelahian, entah apa motifnya membuat suasana yang kurasakan semakin tegang. Menyeramkan !
Sambil menunggu angkot dengan cemas, tiba-tiba ada yang menyapa dengan ramah.
“Mau pulang, Fit ?” aku kaget, rupanya akh dan  Bayu
“Eh...iya !”jawabku kelabakan sambil menghapus air mata.
“Kok cuma berdua ? “tampak ia memperhatikan rombongan kami tadi.
“Oh...mereka lanjut perjalanan. Macet aku nggak tahan kalau mau lanjut, akhirnya kami memutuskan pulang”jawabku bohong. Malu untuk jujur karma kekonyolan ini. Walau aku yakin mungkin mereka nggak akan mempermasalahkan hal ini.
“Kalau nggak keberatan kami anta, nggak baik berdua takutnya ada apa-apa. Apalagi dalam situasi seperti ini, tadi ada rusuh. Aku pikir kita juga searah”.
Dalam situasi seperti ini, kayaknya aku harus setuju. Aku nggak tahu harus sedih atau senang tapi yang pasti ada kelegaan. Setidaknya aman. Dwi juga tampak setuju.
****
Kuhentikan tilawahku lumayan kali ini dapat selesai dua juz. Selama tilawah aku agak nggak konsen soalnya Ida sudah hampir setengah jam ada di kamarku mondar-mandir. Aku tahu tujuannya kekamar ku ingin minta maaf. Dari insiden konser itu sudah hampir tiga hari aku menghindar dari Ida. Kalau di ingat-ingat lagi aku jadi nggak enak, teringat tidak boleh mendiamkan saudaranya sesama muslim lebih dari tiga hari.
“Fit, aku tahu kamu marah dari acara konser. Aku nggak tahu kalau ternyata kamu nggak suka”. Ucapnya terhenti. Aku masih diam sambil memperhatikan dan mendengarkan penjelasannya. Dari nada bicaranya sih tampaknya dia menyesal.
“Aku pikir kamu dan yang lainnya bakal senang, malah berbuntut kayak gini. Aku ngaku, aku salah maaf ya Fit.”pintanya, tampaknya ia tulus. Aku menatap Dwi yang tengah memperhatikan kami. Dwi berhenti sejenak dari aktivitasnya di depan komputer, Dwi menganggukkan kepala memberi isyarat padaku agar aku memaafkan Ida. Aku masih terdiam. Tampak wajah Ida cemas. Tapi, jujur nih aku masih kesal.
“Oke. Aku maafin asal yang begituan nggak terulang lagi”.
“Kami nggak menyalahkan kamu kalau niat berbagi kesenangan pada kami, tapi caranya kurang tepat”. Dwi ikut menanggapi. Nah, kayaknya tiba waktunya, inilah watu yang kutunggu-tunggu.
“Iya, Da. Kami hargai niatmu. Tapi, kayaknya kamu ngefans banget sama grup band itu?” selidikku.
“Iya.”
“Seberapa ngefans? Atau emang udah ngefans banget, ya?” Tanya ku lagi.
“Iya, ngefans banget “jawab Ida semangat. Aku dan Dwi saling pandang.
“Nah, itulah letak kesalahanmu!” ketusku.
“Lho, dimana salahnya?” Tanya Ida bingung.
“Salahnya elu yang ngefans banget, tapi bawa kita-kita”.
“Memang kita nggak boleh ngefans sama yang begituan ?”Ida tampak setengah protes, idolanya dipermasalahkan dan di salahkan.
“Boleh kita mengidolakan seseorang selagi di batas kewajaran dan yang diidolakan itu benar,”jelas Dwi bijak.
“Maksudnya?”
“Begini, memang rasa suka itu fitrah tapi liat-liat dulu banyak manfaatnya atau nggak.  Kita dikasih ALLAH otak untuk berpikir. Tapi jangan sampai kita terbawa arus, apalagi mengidolakan seseorang dengan histeria dan berlebihan. Kita juga harus pikirkan dampak dari apa yang kita lakukan. Kalau toh idola kita itu memberi pengaruh yang buruk buat iman dan aqidah kita, lebih baik nggak usah. Sebaliknya kita pilih figur idola yang lebih baik dan sebenarnya.
Ida masih tampak kurang terima, aku dan dwi menceritakan kejadian-kejadian yang kami liat sepanjang perjalanan saat kami pulang kemaren.
Ida terdiam, tampaknya ia berpikir. Aku menatap Dwi, minta dukungan dan tampaknya Dwi mengerti.
“Maaf, ya Da! Kita bukannya mau mendikte kamu. Kita cuma mau mengingatkanmu, selagi belum terlalu jauh. Benar kata Fitri, sebaiknya kita memang harus benar-benar mencari figur yang baik untuk kita idolakan”
“Siapa? Memang ada sosok yang menurut kalian lebih memenuhi figur yang baik?” Aku nggak tahu pasti maksud Ida, tapi belum sempat berpikir lebih jauh Dwi sudah menanggapi dengan bijak.
“Ada. Yaitu Rasulullah SAW” Dwi berhenti sejenak.
“Lagian meneladani Rasul dan mengidolakannya adalah bagian dari keimanan. Syahadat kita aja, yang merupakan pengakuan dan kesaksian kita kepada ALLAH dan berisikan mengakui, meneladani dan mengikuti Rasulullah. Jadi, mengikuti Rasul sama dengan mentaati ALLAH swt. Meneladani Rasul adalah hal yang logis dan bisa diterima. Sesungguhnya beliau pun idola yag paling ideal, teladan paling utama. Dan hikmahnya hidup kita tenang karena memiliki pegangan dan pedoman yang jelas. Dan jika kita beriman kita akan diberi ganjaran di syurga. Rasulullah juga teladan dalam hidupnya, kepribadiannya, perilakunya subhanallah banget ! Kesederhanaannya. Fisiknya jauh lebih semperna, ketampanannya dan kharismanya nggak ada yang menandingi beliau. Semua lewat! Kita nggak akan salah mengidolakan Rasulullah SAW”. terangku panjang lebar. Aku harap Ida mengerti.
“Oke. Kalau gitu. Tapi...”
“Apa? Apa lagi…?”
“Kalau idola nggak berlebihan, nggak apa-apa kan ? Trus, apa kita juga nggak boleh dengerin lagu-lagu yang gituan? Trus hiburan kita apa dong?!” tanyanya bingung.
Ah....Ida !
“Kalau biasa-biasa aja sih boleh aja. Sebaiknya hiburan orang mukmin itu yang bisa menambah keimanan kita. Kecintaan kita pada Rabb dan Rasulnya. “jelas Dwi lagi.
“Lantas apa?”
“Contohnya, kita sering-sering aja ikut kajian-kajian Islam, tausiyah-tausiyah atau denger nasyid. Nasyid juga salah satu media untuk dakwah dan bisa menambah keyakinan”tambahku.
“Nih, kalau mau jelasnya baca aca buku siroh nabawiyah dan siroh Rasulullah muhammad SAW dan buku wajah Rasulullah.” tawarku. Dan lega waktu Ida menerima tawaran kami. Ah semoga saja Ida berubah. Kusodorkan beberapa buku dan kaset nasyid untuk dia pinjam, dan aku lebih lega lagi ada kesempatan beginian buat ngedamprat eh, anu buat mengingatkan Ida. J
Lega....
****
Akhir-akhir ini Ida tampak berubah. Di kamarnya tampak lebih rapi dan bersih, tak ada lagi tampang-tampang idolanya yang berkiblat ke 'jahiliah' menurutku, yang biasa bergentayangan terpajang di dinding kamarnya dengan pose-pose yang aneh. Lebih membahagiakan lagi sekarang sering terdengar lantunan syahdu dari para mujahid dalam seni nasyid. Ah, lega deh!
Mungkin Ida sudah mulai mengerti. Aku harap buku-buku itu membantu.
Aku tampak bingung saat Ida menyarahkan empat tiket nonton konser nasyid, kami bertiga saling pandang.
Please, ya! Kali ini nggak bakal terulang kayak kemaren deh. Tempatnya juga terjamin. Kita di studio ada bangkunya, lagian yang nonton para jilbaber dan cowok-cowok yang suka ada jenggotnya itu, apa… wan?”
“Ikhwan”
.”Iya, gitu deh,  Sebenarnya aku sudah punya kasetnya, tapi ini kesempatan liat secara langsung. Kebetulan mereka konser disini. Please ya, lagunya bagus-bagus kok”. Pintanya memelas.
Kami saling pandang, gimana ya? Tapi kalau dipikir-pikir inikan jauh beda dari yang kemaren, lagian takut ngecewain si Ida, lagian Ida sekarang sudah sedikit berubah. Dan akhirnya kita setuju juga. Itung-itung hiburan juga.
                                                            ***
Di dalam studio jauh terasa lebih baik ketimbang di konser waktu itu dan suasananya tak begitu riuh. Bener sih apa yang Ida bilang. Kami kebagian bangku yang tak lumayan jauh, jadi terlihat dengan jelas. Awal acara semua masih dalam tahap aman-aman saja sampai rombongan personil dari nasyid itu muncul dan langsung membawakan tembang yang enak di dengar. Tapi tiba-tiba suasana riuh, hiruk pikuk. Kehisterisan mulai nampak. Sangat nampak. Sampai-sampai tadinya sunyi dan aman kini serasa di pasar tempel. Ada yang menjerit histeris, ada yang nangis-nangis. Lho kok?!
Tak heran tim nasyid nya memang kompak dan bagus. Lagu-lagunya pun bagus. Tapi kok jadinya begini. Kepalaku mulai terasa pusing, dadaku sesak gemetaran, jantung berdegup lebih keras dan keringat dingin mengucur lebih deras, apalagi terdengar Ida berteriak histeris meneriakkan nama personil tim nasyid itu. Yang ku tebak sekarang ini jadi idolanya pengganti grup band yang pernah ia idola-idolakan.
“Romii...!Ferdiaaan...!”
Gubrak!!!
Ampun deh, idaa…
Ya Rabb, apa yang harus aku lakukan... ?!
***
                                                                      ( Memory saat bersama sahabat : I Miis u sob…)

Jumat, 21 Desember 2012

Esai Bahasa



PERAN SERTA KITA DALAM PELESTARIAN BAHASA INDONESIA
Oleh: Lena*
Kemampuan berbahasa Indonesia yang baik dan benar saat ini sangat  diutamakan di masyarakat Indonesia sebagai pengguna bahasa yang baik secara baik dikalangan pemerintahan, termasuk di dunia pendidikan. Dengan tujuan, bahasa Indonesia diharapkan dapat terus berkembang dan masyarakat mempunyai keterampilan berbahasa Indonesia dengan baik. Tentunya dibutuhkan peran aktif masyarakat dalam memelihara, mengembangkan dan menyebarkan  bahasa Indonesia untuk digunakan oleh masyarakat Indonesia secara luas.
Jika kita melihat dari sudut pandang sejarah bangsa Indonesia, untuk dapat menggunakah bahasa Indonesia yang dipakai oleh masyarakat pada saat ini dibutuhkan waktu dan perjuangan bangsa yang cukup panjang. Kita lihat bagaimana yang perjuangan keras yang dilakukan oleh anak bangsa pada saat itu, tentu saja semua usaha dan perjuangan itu didasari atas dasar rasa cinta terhadap bangsanya. Seperti yang tercantum dalam bait ketiga yang terdapat dalam sumpah pemuda yang dideklarasikan pada tanggal 28 Oktober 1928 berbunyi dalam versi ejaan yang disempurnakan: kami putra putri Indonesia, menjunjung bahasa persatuan, bahasa Indonesia.  Pada akhirnya bahasa Indonesia diresmikan sebagai bahasa Resmi Negara Indonesia dan diresmikan dalam Undang Undang Dasar 1945 dan sebagai Bahasa Nasional yang berfungsi sebagai bahasa pemersatu bangsa dengan tujuan untuk komunikatif.
Untuk itu kita sebagai mahasiswa, kita pempunyai kewajiban serta peran aktif untuk ikut membantu memelihara, menggunakan dan terus melestarikan bahasa Indonesia dengan baik dan benar di masyarakat. Serta diharapkan dapat terus belajar memperbaiki kekeliruan berbahasa Indonesia selama ini digunakan dalam masyarakat. Tidak ada suatu bahasa pun dapat dikuasai  dengan baik tanpa dipelajari, bukankah tugas kita sebagai mahasiswa adalah belajar.
Akan sangat disayangkan sekali rasanya kalau kita tidak bisa melestarikan tetapi justru merusaknya. Permasalahannya sekarang adalah banyaknya permasalahan yang timbul seputar penggunaan bahasa Indonesia di kehidupan masyarakat sehari-hari. Salah satu faktor utamanya adalah pengarug perkembangan tehnologi dan budaya gaul dalam bahasa percakapan sebagai bahasa pergaulan di masyarakat sangat memprihatinkan menjadi salah satu pemicu lahirnya bahasa-bahasa “gaul atau bahasa alay” yang berkembang dengan pesat dikalangan pergaulan remaja kita saat ini.
Bukan saja bahasa tuturan yang kurang baik bahkan sikap mental berbahasa pun menjadi kurang baik. Dan yang lebih memprihatinkan adalah banyak diantara masyarakat kita bertutur bahasa Indonesia semacam “bahasa gado-gado” yang mencampurkan kosa kata bahasa Indonesia dengan kosa kata bahasa asing, bahkan meleburkan bahasa gaul kedalam bahasa Indonesia. Bukankah akan terjadi bahasa Indonesia yang tidak sehat.
Sebagai contoh sederhan masyarakat kita lebih menyukai memakai kata “Hape atau hanphone” dari pada “Telpon genggam” atau “Laptop” dari pada kata “Komputer jinjing” dan yang lebih menyedihkan lagi masyarakat kita lebih menyukai penggunaan kata ”Lo-Gue” dari pada kata “Anda dan Saya”. Diantara mereka berpendapat akan terkesan lebih keren dan lebih gaul dari pada menggunakan bahasa Indonesia dengan baik dan benar akan terkesan tidak gaul. Dengan jalan berfikir yang sederhana seperti itu, secara tidak sadar mereka berperan menyebabkan bahasa Indonesia akan lambat laun akan tertinggal bahkan menghilang. Dan kemungkinan akan digunakan dalam ruang gerak terbatas dan mungkin hanya akan digunakan di ruang lingkup pemerintahan saja dan tidak menjadi bahasa wajib yang harus dimiliki sebagai keterampilan berbahasa Indonesia yang baik.
 Pemerintah sudah berupaya keras dalam melestarikan bahasa Indonesia dengan baik dan benar. Baik di lingkungan instansi pemerintahan itu sendiri yang diwajibkan menggunakan bahasa Indonesia dan di dunia pendidikan. Dapat kita lihat dengan banyaknya dari universitas yang menyadiakan Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP) dengan jurusan Pendidikan Bahasa, Sastra Indonesia dan Daerah di universitas-universitas yang tersebar di Indonesia.
Dalam proses pendidikan akademik yang berkonsentrasi pada keterampilan berbahasa Indonesia. Diharapkan dapat menciptakan mahasiswa yang mempunyai pengetahuan yang baik seputar penggunaan bahasa Indonesia dengan baik dan benar.  Dan kelak dapat mengaplikasikannya dengan baik di dunia kerja maupun di kehidupan sehari-hari. Juga sudah banyak dilakukan seminar kebahasaan.
Oleh karena itu saat ini sangat dibutuhkan peran serta kita sebagai mahasiwa untuk membantu menemukan solusi yang cerdas dalam mengatasi permasalahan ini dan sikap positif serta kesadaran dari masyarakat untuk pentingnnya menggunakan bahasa Indonesia yang baik dan benar. Proses pembiasaanlah sulosi yang tepat yang harus dilakukan oleh masyarakat saat ini jika bahasa Indonesia ingin terus dapat dipertahankan dan dilestarikan. Dengan menggunakan bahasa Indonesia yang baik dan benar yang harus dilakukan oleh masyarakat kita, dan diharapkan akan dapat tercapainya masyarakat Indonesia memiliki keterampilan berbahasa Indonesia dengan baik.
 Sebelum terjadinya pembiasaan menggunakan bahasa Indonesia yang baik dan benar di masyarakat, tentunya sangat ideal jika masyarakat kita dapat mengetahui terlebih dahulu kesalahan-kesalahan atau kekeliruan yang selama ini terjadi dimasyarakat dalam berbahasa Indonesia. Setelah mengetahui kesalahan-kesalahan tersebut diharapkan masyarakat kita dapat mempelajari kaidah-kaidah yang berlaku. Sehingga masyarakat kita mampu berbahasa Indonesia dengan baik dan benar.
Bahasa yang baik adalah bahasa yang digunakan dalam situasi dan kondisi yang tepat. Contohnya. Bahasa formal dapat digunakan dalam kondisi yang formal seperti acara seminar atau kegiatan belajar mengajar. Bahasa Indonesia yang benar adalah menggunakan bahasa Indonesia berdasarkan ejaan yang baik dan benar serta mematuhi kaidah dan peraturan yang berlaku.
Selama ini masyarakat kita terkesan menggunakan bahasa yang benar adalah bahasa yang biasa sering digunakan di masyarakat luas tanpa mempertimbangkan kebenarannya serta tidak didukung pengetahuan yang baik dan benar. Sebagai contoh di masyarakat ketika sedang terjadi komunikasi dalam lingkungan terdekat kita seperti keluarga, teman bahkan tetangga kita dalam bahasa komunikasi keseharian. Biasanya mereka lebih menyukai menggunakan kata “Apotik” dari pada kata “Apotek”. Padahal kata yang benar adalah kata “Apotek”.
Kesempatan inilah yang dapat kita gunakan dengan baik saat kita mempunyai kesempatan berinteraksi secara langsung dengan menggunakan bahasa Indonesia yang baik sebagai media komunikasi. Mungkin akan terasa sulit pada tahap awal. Namun jika dibiasakan secara terus-menerus dan berkelanjutan maka akan ada hasil yang baik. 
Dengan kata lain kita sudah ikut berperan serta membantu pelestarian bahasa Indonesia yang baik dan benar. Secara sederhana kita juga telah berbagi pengetahuan secara langsung dan dengan cara yang bijak dan baik. Semua itu dinilai sangat baik dalam upaya membenarkan kekeliruan selama ini yang telah menjadi terbiasa.
Jika kita pribadi dapat melakukannya dengan baik yang di mulai dari lingkungan yang terkecil seperti keluarga, lalu terus diupayakan di lingkungan tetangga, teman pergaulan bahkan di instansi pemerintahan seperti dunia pendidikan yang juga tidak luput dari kekeliruan dalam penggunaan bahasa Indonesia yang baik dan benar. Maka diharapkan akan menjadi contoh yang dapat dijadikan panutan dari mahasiswa yang lain dan akan mengubahnya menjadi kebiasaan yang baik. Jika semua dapat berperan dengan baik dapat dipastikan akan ada hasil yang menakjubkan dan membanggakan.
Maka akan dapat dipastikan akan tercapainya keberhasilan sesuai yang dicita-citakan dengan masyarakat Indonesia yang mempunyai keterampilan berbahasa Indonesia yang baik dan benar. Dan diharapkan dari masyarakat Indonesia selalu sadar akan pentingnya menggunakan bahasa Indonesia yang baik dan benar serta dengan  bangga menggunakan bahasa Indonesia sebagai bahasa komunikasi. Dan bahasa Indonesia akan terlestarikan dengan baik.
(* penulis adalah mahasiswi semester lima, Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan, Jurusan Pendidikan Bahasa, Sastra Indonesia dan Daerah di Universitas Baturaja. tulisan ini di buat sebagai syarat mengikuti kompetisi Duta Bahasa)

Esai Sastra


UPAYA MENUMBUHKAN MINAT DIKALANGAN MAHASISWA
TERHADAP KARYA SASTRA
Oleh: Lena*
Saat  kita berbicara tentang sastra tentunya kita harus tahu terlebih dahulu tentang pengertian dari sastra itu sendiri. Istilah sastra menurut Kamus Besar bahasa Indonesia, sastra adalah: bahasa yang dipakai dalam sebuah tulisan; karya tulis yang memiliki nilai seni. Adapun jenis karya sastra juga beragam mulai dari prosa, drama, dan puisi.
Tentunya semua jenis karya sastra tersebut menyimpan cerita yang menarik yang berkaitan dengan sejarah perkembangannya dan memiliki kesan tersendiri dihati penikmat karya sastra. Karena sastra yang baik adalah sastra yang memnpunyai arti  bagi pembacanya. Unsur estetika yang indah dan bervariasi dalam bahasa yang terdapat dalam sastralah yeng menjadikan sastra begitu menarik.
Jika dibahas atau dianalisis secara mendalam. Karya sastra seakan tidak ada habisnya untuk terus disimak dan dibahas. Karya  sastra juga seakan tidak mati di makan zaman. Dan sastra mempunyai tempat tersendiri dalam sejarah perkembangan bangsa Indonesia.
Jika kita menilik sejarah perkembangan sastra di Indonesia tentunya kita akan takjub dengan banyaknya karya-karya sastra Indonesia yang telah dilahirkan oleh penulis karya sastra tersebut. Baik dari Angkatan Balai Pustaka Sampai Angkatan tahun 2000-an. Termasuk perkembangan dari aliran-aliran sastra yang ada hingga saat ini. 
Karya Sastra juga seperti terus terpelihara dan terjaga dan memiliki komunitas pembaca tersendiri mulai dengan adanya karya-karya sastra yang tergolong seperti karya sastra klasik, sastra modern dan sastra kontemporer. Karya sastra akan tetap terus dilahirkan selagi masih ada penulis melahirkan karya sastra  dan pembaca yang baik. Melihat respon masyarakat yang baik terhadap setiap hadirnya karya sastra itu artinya akan terus ada harapan untuk karya sastra tetap bertahan hidup. 
Pembaca yang baik juga tidak terlepas dari sekadar aktivitasnya sebagai pembaca. Pembaca karya sastra yang baik juga mampu mengapresiasikan karya sastra. Apresiasi terhadap karya sastra adalah salah satu bentuk kontribusi pembaca terhadap karya sastra yang dicintainnya. 
Tanpa kita sadari dari kecil kita sudah mengenal sastra. Coba kita perhatikan dari pengalaman kita semasa kecil dulu. Saat kita  kecil orang tua atau ibu kita sering membacakan dongeng untuk kita saat sebelum tidur. Saat kita mulai mengenal pendidikan di Sekolah Dasar kita juga diperkenalkan dengan karya sastra. Baik dongeng, cerpen, puisi dan karya sastra yang lain yang sesuai dengan kapasitas kemampuan siswa sekolah dasar.
Masih membekas di hati dan ingatan saya pada saat pelajaran Bahasa Indonesia, ada pelajaran tentang puisi yang berjudul “Pak Pos”. Kami semua siswa pada saat itu mendapat penjalasan tentang puisi, diajarkan bagai mana membaca puisi, dan ditugasi menghafal, menghayati dan tentunya diperagakan didepan kelas. Saya sangat senang sekali pada saat itu, saya berhasil menghafal dan memperagakannya didepak teman-teman satu kelas saya.
Dan yang lebih membuat saya bahagia dan bangga pada saat itu adalah ketika saya mendapatkan tepuk tangan yang meriah dari teman-teman saya.  Beberapa bait kata yang terdapat dalam puisi tersebut masih dapat saya ingat hingga saat ini. Sungguh menjadi pengalaman yang sangat berkesan bagi saya.
Sebenarnya ada sesuatu yang membuat saya begitu terkesan pada puisi tersebut dan pada akhirnya tidak hanya sekedar ikut berpartisipasi biasa dalam mengapresiasikan karya sastra tersebut. Pada saat itu saya sangat terkesan dengan perjuangan seorang petugas pos, dalam perjuangan menjalankan tugasnya mengantarkan surat. Ditambah lagi dengan pengalaman saya yang selalu menantikan kehadiran pak pos setiap hari dengan harapan pak pos datang membawa balasan surat dari sahabat pena saya.
Dari pengalaman mengenal karya sastra yang sederhana itu, lambat laun saya mulai menyukai karya sastra yang lain. Saya mulai membiasakan diri unttuk membaca. Walaupun bacaan saya baru terbatas karya sastra dengan jenis cerita tertentu yang menarik untuk saya baca.  
            Pada akhirnya saya masuk ke dunia kampus. Selain saya tenggelam dalam urusan akademik, menikmati kesempatan menimba ilmu, belajar dengan baik, serta menyelesaikan tuga-tugas perkuliahan dengan baik. Saya sangat menikmati  itu dengan baik.
            Lalu, bagaimana dengan pengetahuan sastra saya selama ini? Tentu  saja pengetahuan dan pengalaman saya sebagai pembaca sastra selama ini saya jadikan pengentar dalam mempelajari sastra lebih jauh lagi. Saya ingin mengetahui dan mempelajari sastra dengan baik. Walau pendidikan yang saya tempuh tidak sepenuhnya mempelajari tentang sastra saja. Setidaknya saya masih mempunyai kesempatan itu.
            Kepedulian saya terhadap sastra selama ini membuat saya ikut memperhatikan “tempat” sastra dilingkungan di sekitar saya. Apakah sastra mempunyai tempat yang layak? Atau bagaimana tanggapan orang-orang disekitar saya mengenai sastra? Apakah mereka menyukai sastra seperti halnya saya atau tidak?. Dan ternyata minat mahasiswa mengenai sastra masih rendah.
Permasalahannya adalah banyak diantara mahasiswa yang tidak atau belum menyukai karya sastra. Jika ditanya alasannya,  sebagian mereka berpendapat tidak mau tahu tentang sastra, sastra itu rumit, sulit di mengerti, bahasanya tinggi, intinya tidak suka pada karya sastra. Dapat dipahami alasan mengapa mereka tidak menyukai karya sastra, mungkin salah satu faktor penyebabnya adalah tidak suka atau belum disebabkan karena tidak diimbangi dengan budaya membaca yang baik dan belum tahu bagaimana rasanya menikmati karya sastra.
            Memang tidak mudah menyimpulkan demikian. Semua hanya asumsi sementara saya setelah melihat respon dari orang-orang disekitar saya dilingkungan akademik. Jika ditanyai atau diajak terlibat dalam pembicaraan atau pembahasan mengenai sastra. Tetapi peluang yang menyukai sastra juga masih banyak. Namun belum dapat di gambar kan dengan persentasi dalam bentuk angka.  
            Tentunya itu menjadi hal yang memprihatinkan jika mahasiswa yang dimaksud adalan mahasiwa yang bergelut di jurusan bahasa dan sastra. Ini yang membuat saya tergelitik. Tentunya ini bukan permasalahan yang sepele. Itu artinya kita mempunyai tugas yang berat dan dibutuhkan upaya yang besar untuk dapat membangkitkan kembali minat mahasiswa terhadap sastra.
            Dalam kegiatan akademik atau kegiatan belajar mengajar dalam mata kuliah tentang sastra, tentunya saya berupaya untuk melibatkan diri didalamnya. Saya berusaha untuk berkontribusi didalamnnya, meski yang saya lakukan belum bisa dikatakan hal yang besar, setidaknya saya berupaya melakukan yang saya mampu. Contoh kecil yang saya lakukan adalah pada saat mata kuliah mengenai sastra ada aktivitas menonton Film yang diadaptasi dari karya sastra dalam bentuk cerpen atau novel.
Saya pilihkan film dengan kualitas yang baik dan sesuai dengan situasi dan kondisi. Lalu saya siapkan karya sastra dalam bentuk asli (tulisan) sebelum diadaptasi. Saya mempersiapkannya terlebih dahulu sebelum kami melakukan aktivitas menonton film.
Setelah intu barulah kemudian kami melakukan aktivitas mambahas apa yang telah kami simak bersama. Kami melakukan aktivitas menilai, membandingkan dan lain-lain. Hal ini memberikan sedikit hasil yang baik. Diantaranya ada teman-teman saya melihat ada yang mulai terlihat tertarik dan ikut berpartisipasi didalamnya meski sebagian juga terlihat dengan respon yang biasa.
            Mungkin kita harus membuat sebuah kegiatan yang lebih serius lagi demi membangkitkan minat mahasiswa terhadap sastra. Pemerintah dan orang-orang yang terlibat di dunia pendidikan dapat bekerjasama dengan baik. Harus lebih serius membuat event-event acara yang berbau sastra. Baik itu berupa seminar, pelatihan, perlombaan dan kompetisi terbuka mengenai sastra. 
Saya sependapat dengan penyair asal Semarang sekaligus menjabat Sekretaris Dewan Kesenian Jawa Tengah, Gunoto Saparie yang mengusulkan kepada Badan Pengembangan Kementrian pendidikan Nasional agar menyelenggarakan pemilihan duta sastra, pernyataan beliau dimuat di suara merdeka 24 Mei 2011. beliau berpendapat “duta sastra ini sangat penting bagi upaya pemasyarakatan dan peningkatan apresiasi sastra dikalangan masyarakat”.
            Dengan diadakan kegiata tersebut akan kian memicu minat mahasiswa untuk mengenal sastra lebih jauh. Maka akan membuka jalan bagi mahasiswa untuk berminat menyukai karya sastra. Jika mahasiswa sudah memiliki minat terhadap sastra diharapkan mahasiswa dapat tertarik, kemudian akan ada harapan mahasiswa terlibat dalam kegiatan mengapresiasi sastra dan kemungkinan besar akan ada harapan baru, yaitu mahasiswa mampu melahirkan karya sastra.
  
(* penulis adalah mahasiwi semester lima, Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan, Jurusan Pendidikan Bahasa, Sastra Indonesia dan Daerah di Universitas Baturaja. tlisan ini di buat sebagai syarat mengikti kompetisi Duta Bahasa)

Rabu, 14 Maret 2012

Cinta dalam bahasa ekonomi

Cinta dalam bahasa ekonomi


Aku tidak ingat kapan pastinya cinta kita termarger
Aku merasakan perkembanganya setiap detik
Sehingga menjadi who sailer
Dan tidak mampu ku likwidasi
Karna engkau telah melikwiditas padaku
Aku suka aksi rentabilitasmu
sehingga aku yakin saham cintamu sudah tertanam di hati ku
Menghadirkan swadaya
Meski engkau berada di Bulag dan aku di Dulog
Tapi, engkau meyakinkan aku bahwa kita mampu menjaga dupoli cinta kita
Simple seperti giral, namun tak bisa di obral seperti cartal
Tak perlu makelar dan obligasi.. Karna kita sudah menjadi consolidation yang indah

lena munzar,
bta, 14.03.'12/10:37

Di mulai pagi ini...

Di mulai pagi ini...



Mungkin kemarin masih terlihat torehan duka yang tersisa

Luka yang belum selesai terbasuh

Setelah sekian lama

Pagi ini aku menyadari

Cerita ini harus diakhiri


Sekarang aku berdiri

Di atas kaki dan hatiku sendiri

Ku susun kembali mimpi-mimpi yang terlewati

Ku biarkan engkau berlalu pergi

Terima kasih Tuhan, Engkau berikan pagi yang indah ini..




Lena Munzar
Bta, rabu 29.02.2012.
07:45 wib